Selalu menarik ketika kita membahas perkembangan Indonesia dari masa ke masa. Membaca pantun, mempelajati talibun, gurindam, ataupun puisi baru, seolah kita mengikuti sejarah perjuangan bangsa ini. Syair merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra yang lahir dalam sejarah perkembangan bangsa ini. Berbeda dengan gurindam yang muncul karena akulturasi budaya bangsa dengan hindu, syair muncul setelah agama Islam menyebar di nusantara (Simorangkir, 1952: 41). Dterangkan oleh Dr. Hooykaas bahwa syair yang tertua dalam bahasa melayu terdapat di sebuah batu nisan tua di Minye Tujoh Aceh, berangka tahun 781 H atau sekitar 1380 Masehi.  Kata syair sendiri berasal dari bahasa arab yang bermakna panembang, menembang, atau tembang (Soetarno, 1967: 27). Contoh syair yang berjudul “Hidup Sengsara” yang dikutip dari syair “Jatim Nestapa”:

Setelah didengar raja bestari

Murka baginda tidak berperi

Pedang terhunus baginda sendri

Permaisuri tua memegangkan diri

Seraya katanya jangan begitu andangkan mata saudaramu itu Jika dibunuh bundanya itu Jadilah dinda tidak bertentu ……………………………………………

dari: Kesustraan Indonesia

Ciri-ciri syair: a. Tiap bait terdiri dari empat baris, b. tiap baris terdiri dari 8  – 12 suku kata, tapi pada umumnya 10 suku kata, c. bersajak sama (a a a a), sajak boleh sempurna maupun tidak sempurna, d. keempat baris berturutan memiliki hubungan logis, e. isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, cerita, dan sebagainya. Dari contoh syair dan ciricirnya di atas, kita dapat membandingkan perbedaan antara syair dan pantun. Jenis syair menurut isinyaDr. C. Hooykaas dalam bukunya “Over Maleise Literatuur”  membedakan syair menjadi enam (6) macam: 1. Syair Panji, misalnya:

a. Syair Ken tambuhan

b. Lelakon Mesa Kumitar

c. Undakan Agung Udaya

d. Cerita Wayang Kinudang

2. Syair yang berisi cerita fantastis, contohnya:

a. Syair Bidasari

b. Syair Sutan Abdulmuluk

c. Syair Yatim Nestapa

d. Syair Raja Mambang Jauhari

3. Syair yang berisi chronique con’emporaine et scandaleuse (cerita tentang kejadian yang bersifat gaib), misalnya:

a. Syair Ikan Terubuk berahkan puyu-puyu di dalam lubuk

b. Syair Burung Pungguk

c. Syair Nuri Mimpi bersuntngkan Bunga Cempaka

d. Syair Ikan Tambera

4. Syair yang menceritakan suasana atau kejadian pada jaman pengarangnya, contohnya:

a. Syair Pulau Belitung

b. Syair Puteri Naga di Tapak Tuan

c. Syair Perang Banjarmasin

d. Syair Perang Menteng

5. Syair Terjemahan, contohnya:

a. Syair Carita Wayang

b. Syair Bibi Marhumah yang Saleh

c. Syair Puteri Andelan (Puteri Akal)

6. Syair yang bersifat didaktis, religius, mistis, dan bersifat moral, misalnya:

a. Syair Takbir Mimpi

b. Syair Pelanduk Jenaka

c. Syair Orang Makan Madat

d. Syair Nabi Allah Ayub

e. Syair Injil

Tokoh syair yang terkenal yaitu Hamzah Fansuri yang hidup pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Karya beliau yang terkenal yakni “Syair Perahu” yang mengandung mistik atau ilmu suluk. Contoh syair yang lain: Syair yang berisi nasihat Bukan mudah memaju maksud Simpang siur jalannya kusut Majunya lambat beringsut-ingsut Patah di tangan banyak yang lingsut Menuju maksud ke jalan bakti Sukar dan sulit bukan seperti Mengadu untung di tempat sakti Jika tak paham celakalah pasti Kutipan “Syair Abdul Muluk” …………………………………. Abdul Muluk putera baginda Besarlah sudah bangsawan muda Cantik Majelis usulnya syahda Tiga belas tahun umurnya ada Parasnya elok amat sempurna Patah Majelis bijak laksana Memberi hati bimbang gulana Kasih kepadanya mulia dan hina Akan rahmah puteri bangsawan Parasnya elok sukar dilawan Sedap manis barang kelakuan Sepuluh tahun umurnya tuan ………………………………………. Bibliografi: 1. Simorangkir, B dan Simandjutak (1952). Kesusasteraan Indonesia I. Jakarta: Yayasan Pembangunan Jakarta. 2. Soetarno (167). Peristiwa Sastra Melayu Lama. Surakarta: Widya Duta.

One response »

  1. Carsan M Pd mengatakan:

    Assalamu’alaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s