Tulisan ini hanya sebagian dari rasa lucuku pada bahasa yang telah mempersatukan bangsa ini. Bukan karena tidak bangga, atau pula merasa bosan untuk menggunakan bahasa tercinta ini. Namun, semata-mata rasa lucu itu muncul serta-merta ketika saya membaca kata demi kata yang tertulis pada lembar jawaban siswa-siswa saya.

Entah karena terburu waktu atau mungkin efisiensi tinta pulpen yang mereka pakai, karena hampir semua kompak menulis kata “Yang” dengan “yg”, atau kata “Dengan” disingkat saja “dg”, bahkan parah lagi “Karena” menjadi “krn” atau pula “Sudah” berubah menjadi “sdh”. Duh,…batin tertawa namun campur ngilu, lucu tapi bingung maksud jawabannya apa karena jadinya multi-persepsi.

Jika sudah demikian siapa yang patut disalahkan? ah, itu mah tanggung jawab guru bahasa-nya donk!, ada yang berkata seperti itu. Padahal, saya kira ini merupakan tanggungjawab kita semua sebagai bangsa Indonesia, yang tentu saja harus merasa memiliki bahasa kebanggaan kita ini. Apa terus guru matematika tak peduli dengan anak yang kebelinger menggunakan kata-kata (tepatnya huruf-huruf) konyol seperti itu pada lembar jawaban ulangannya, ataupula apakah seorang guru IPA tak merasa bingung untuk menterjemahkan jawaban anak yang menggunakan bahasa tingkat tinggi?, tak perlu dijawab, tapi harus dipikirkan.

Lalu kenapa anak-anak sekarang lebih suka menyingkat kata-kata? seperti biasanya, semua karena kebiasaan. Bukankah bahasa seperti itu muncul setelah merebaknya SMS, Facebook, IRC, IM, dan sebangsanya? Tapi, apakah faktor kebiasaan harus terus mendarah daging?.

Jika hal di atas tetap dibiarkan, bukan tidak mungkin akan merusak tatanan bahasa kita. Degradasi bahasa (meminjam istilah degradasi moral) akan menjadikan bahasa ini mati di negerinya sendiri. Kita malu dengan orang australia yang dengan gigihnya mempelajari bahasa indonesia, kita tentunya harus miris bahasa indonesia justru pasih didendangkan oleh orang belanda. Kiranya cukup bila bahasa indonesia yang baik hanya ditulis oleh para penerbit buku. Sudah saatnya mengembalikan atau mungkin mengenalkan kembali BAHASA INDONESIA pada anak-anak kita, agar bahasa ini tetap menjadi bahasa yang menjadi kebanggaan kita bersama.

One response »

  1. endah mengatakan:

    wahhh…salut… bakat menulis tersalurkan nehhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s