Setumpuk kain menghiasi rona kamarku yang semakin kusut karena telah tersentuh berbagai kotoran yang selama ini tak pernah aku bersihkan. Lupa atau lalai, mungkin tak mampu lagi aku bedakan. Seperti tak mampu lagi membedakan antara kenyataan dan mimpi.
Apakah aku terlalu banyak tidur sehingga aku senantiasa bermimpi yang menyebabkan aku lupa kapan aku terbangun ?, entahlah semua ternyata telah ada dalam ruangan kamarku yang telah penuh sesak dengan tumpukan kain usang. Bukan saja pakaian ku yang tak pernah aku cuci lagi, tapi ternyata kamar ini menyimpan beribu masalah yang aku ambil dari kamar sebelah.
Mimpi… lebih dekat dengan kehidupanku, bukan karena aku telah lelah untuk hidup di alam nyata, tapi ternyata bermimpi lebih membuatku tenang daripada berada di alam nyata yang telah banyak meracuni perjalanan cintaku.
Cinta…apa yang mampu aku maknai dari kata itu, rasanya belum saatnya aku mampu mengungkapkan tentang cinta dalam mimpiku, karena belum ada mimpiku yang berbicara tentang definisi cinta, yang ada dalam mimpiku adalah jalan pelampiasan segala kekecewaanku terhadap tubuhku sendiri yang telah banyak menyebabkan hatiku hancur.
Biarlah aku bermain dengan mimpiku yang semakin membuatku terlelap memasuki ruangan kusam kamarku. Walau ternyata aku menyadari kamar ini telah membuatku mati.
(ryks, 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s